Tuesday, March 18, 2014

Hectic yet magical


Australia dan saya sepertinya berjodoh. Dua kali sudah saya menyambangi benua ini untuk urusan kerjaan. Kalo dulu Gogirl! ngirim saya ke Brisbane, akhir November lalu saya ke Perth selama seminggu dalam rangka menulis buklet untuk sebuah lembaga turisme Australia Barat.


Jujur, selama berkarir di media, inilah liputan ter-hectic yang pernah saya lakukan. Persiapannya grasa-grusu, kliennya juga agak abstrak. Karena angle tulisan dan pagination-nya masih kasar, sebelum berangkat saya dipesenin bos untuk buka mata lebar-lebar dan supaya jangan sampe kehilangan momen. “Kalo ada yang seru atau ada yang unik-unik, ambil aja,” begitu kira-kira pesannya. Sama Poetry si fotografer, si bos juga pesen, “Fotoin semua ya, Poet.” Ahaha, SEMUA??

But being the coolest boss that she is, Mba Bhen juga gak lupa ingetin saya dan Poetry untuk have fun and enjoy the trip. And have fun I did. Meski itinerary-nya super padet dan asli capek, I love every single moment of it. Perth has made me fall head over heels with Australia.

 

Karena ini judulnya liputan wisata, kuliner, dan senang-senang, kita serombongan (9 orang) dibawa ke spot-spot seru di Perth, terutama ke bagian barat daya kayak Busselton, Yallingup, Dunsborough, Margaret River, Swan Valley, Fremantle. Beda hari, beda adventure. Ke pantai, ke gua, ke laut lepas, ke kebun anggur, ke pelabuhan, ke restoran di pinggir danau, naik ferry membelah sungai, ke taman botani, ke pabrik nougat, ke kebun binatang, naik jetty, lalu... makan, makan, dan makan.


Dalam sehari kita ke 4 sampai 5 tempat yang berbeda dan gak pernah tidur di hotel yang sama. Tiap hari saya bangun jam 5 pagi dan baru tidur lagi sekitar jam 2 pagi. Kalo teman-teman serombongan pada bisa curi-curi waktu tidur dengan molor di bis, saya mana bisa? Dari dulu saya emang susah tidur di dalam kendaraan, apalagi ini di tempat asing dengan landscape yang beda. Mata saya maunya ngeliat ke luar jendela terus, hehe...


Siklus kayak gitu setiap hari, udah pasti saya sleep deprived. Tapi asli kemaren itu saya gak ngerasain. Mungkin karena saya sangat enjoy sama ritme life-on-the-road yang berlangsung selama trip ini. Long drive on an open road, naik-turun di spot yang berbeda, pee breaks in I don’t know where, check in nyaris tengah malam di hotel yang asing, tiap malam telepon ke front desk untuk pesen morning alarm, different beds every night, etc... I mean I kinda feel like a rockstar on tour ^_^.

I also love the fact that throughout this whole trip I had to park my luggage close to my bed (instead of keeping it nice and tidy inside the room’s closet like I’d normally do). Kopor selalu harus saya taro di deket tempat tidur (dalam keadaan terbuka) biar ringkes kalo ngambil apa-apa dan bisa langsung cus kalo waktunya pergi. Ritme yang cepat, always on the go, always keeping up. I loved it.


Ten or fifteen years from now I probably won’t remember the exact names of the places. But I know I will always remember the feelings I felt when I soaked all the pretty landscapes. Blue skies, yellow grass, white sands, grey open roads, sparkly crystal clear waters. Oh, and that sticky, sticky hot summer weather. So hot it hurts my skin. Perth, you robbed me.


*Pics by me & Poetry, first pic by Jennifer


Monday, February 10, 2014

Tersenyum di Tengah Sampah



"Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
(1 Tesalonika 5: 16-18)

Cuaca panas, debu beterbangan ditiup angin, serta asap pembakaran sampah dan pembuatan arang di Smokey Mountain, tempat pembuangan sampah terbesar di Manila, Filipina, tidak menyurutkan kegembiraan mereka. Meski tubuh mereka kotor karena debu, senyum tetap mengembang menghiasi wajah-wajah lugu mereka. Sebuah pemandangan yang mengenaskan, sekaligus memperlihatkan masih adanya sukacita dan harapan di tengah kesusahan dan penderitaan 1.700 keluarga miskin kota yang tinggal di tempat pembuangan sampah. Sukacita yang berasal dari dalam diri, bukan karena keadaan sekitar.

Firman Tuhan menghendaki kita bersukacita selalu, tetap berdoa, dan bersyukur di dalam segala hal. Sukacita bukan karena keadaan sedang baik, tetapi karena kebaikan Kristus Yesus semata. Berdoa tidak putus bagaikan menarik napas, bukan karena butuh tetapi karena kerinduan hati. Bersyukur senantiasa, bukan hanya pada saat berprestasi, tubuh sehat, atau bisnis lancar, melainkan karena Tuhan dan kasih-Nya yang luar biasa.

Dapatkah kita menjadi seperti anak-anak, yang tetap tersenyum ceria meskipun dikelilingi sampah? Dapatkah kita tetap bersukacita, berdoa, dan bersyukur ketika keadaan tidak berlangsung seperti yang kita harapkan? Bukan berarti kita lalu pasrah dan berdiam diri menerima nasib, namun kita dapat menegakkan kepala dengan yakin bahwa dalam keadaan terburuk sekalipun, Allah tidak akan meninggalkan kita dan membiarkan kita seorang diri. Dialah pengharapkan kita yang teguh.

Bersukacita, berdoa, dan bersyukur dalam segala keadaan adalah kunci untuk hidup tanpa didikte oleh keadaan.

*Adama Sihite, dari Renungan Harian 7 Februari 2014


Wednesday, January 15, 2014

Takes one to know one



"I have this thing with, like, words being in that perfect order, and you know exactly how they're trying to make you feel.
And the order of the words.. just, like, slapping you in the heart."



Sutter Keely's Spectacular Now



Challenge.
Hardship.
Future?


My name is Sutter Keely and I am 18 years old.

Compared to other kids, I haven't had that many hardships. Not really. You know, shit's stuff's happened, sure, but stuff always happens, right? But the real challenge in my life, the real hardship, is me. It's always been me.

As long as I can remember, I've never not been afraid. Afraid of failure. Of letting people down. Hurting people. Getting hurt.
I thought if I kept my guard up and focused on other things, other people. If I couldn't even feel it, well, then no harm would come to me.
I screwed up. Not only did I shut out the pain, I shut out everything. The good and the bad. Until there was nothing.

It's fine to just "live in the now," but the best part about "now" is there's another one tomorrow. And I'm gonna start making them count.


Friday, January 10, 2014

1/52


1.
Sejak akhir 2013, saya sering liat foto-foto cantik sunset Jakarta di feed Instagram orang-orang. Sebagai pencinta langit, tentu saya kepingin bisa liat sendiri, tapi sayangnya saya sering bernasib sial. Entah kelewatan, kealingan gedung, saya kelupaan, atau emang langitnya lagi kurang oke aja. 
Tapi 2 Januari kemarin, pas lagi otw pulang kerja, akhirnya saya kesampean liat sunset cantik. Sempet bete karena kejebak macet di flyover Kebayoran Lama, tapi tau-tau saya nyadar langit berubah warna ditelan senja. Merah, oranye, kuning, pink, biru, ungu, dan kelabu bersatu-padu. Cantik sekali. Dan karena saya lagi di atas flyover, maka semua keliatan jelas, 180 derajat. Puas banget.

2.
Lagi jatuh cinta sama buku "Sepeda Merah Yahwari #1" karya Kim Dong Hwa.
Ceritanya sebetulnya sederhana, tapi lembut dan penuh makna. Jarang saya nemu graphic novel yang charming kayak gini, membuat saya jadi pingin pindah ke desa, membeli sepeda, lalu hidup dengan hanya bercocok-tanam dan menulis surat.
Saking sukanya, sengaja saya hemat-hemat bacanya supaya gak lekas habis. Waktu sampai di halaman terakhir, saya sempet sedih gitu, haha aneh banget. Sekarang saya sedang berburu buku keduanya dan buku-buku Kim yang lain. Agak susah karena ternyata sold out dimana-mana.

3.
30 Desember lalu, salah satu perempuan terpenting dalam hidup saya ulang tahun yang ke-54.
Tidak ada perayaan besar, hanya tiup lilin dan potong kue bertiga saja. Tapi kuenya enak dan kami menyantapnya sambil asyik mengobrol. Kak Nur yang biasanya males difoto, sore itu tumben mau disuruh pose dan mau nyengir super lebar.
Selamat ulang tahun, Kak. Sehat selalu, bahagia selalu, sayang sama aku selalu.

4.
Seumur hidup jadi warga Jakarta, saya belum pernah ke lapangan Fatahilah. Jadi waktu weekend kemaren ke sana, ya lumayan norak.
Saya, Pan, dan Kak Nur ke Museum Bank Mandiri, Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, lalu keliling Lapangan Fatahilah. Pingin ke Museum Seni Rupa dan Keramik juga, tapi apa daya kaki udah gempor. Jadi kami ngadem sambil makan siang di Cafe Batavia. Sebetulnya restonya agak tourist trap karena harganya mayan bikin melotot, tapi makanannya asli enak dan view-nya super strategis.
Meski Lapangan Fatahilah overcrowded dan feel-nya agak kurang premium, saya tetep pingin ke sini lagi kapan-kapan. Karena ada 1 kafe lain yang pingin saya cobain dan masih penasaran sama dalemnya Museum Seni Rupa dan Keramik.

5.
Saya gak minta apa-apa sama Tuhan tahun ini. Saya juga gak nge-list resolusi apapun. Justru saya yang janji sama Tuhan; gak bolong ke gereja dan baca Alkitab tiap hari. Minggu 1, berhasil.

Monday, December 30, 2013

Wednesday, December 18, 2013

400th



It's been a slow walk, but I've made it to the 400th post.
Untuk penyegaran, saya merancang ulang logo blog ini. Lebih simpel dan clean, semoga pada suka.

See you at the 500th!