Australia dan saya sepertinya berjodoh. Dua kali
sudah saya menyambangi benua ini untuk urusan kerjaan. Kalo dulu Gogirl! ngirim
saya ke Brisbane, akhir November lalu saya ke Perth selama seminggu dalam rangka
menulis buklet untuk sebuah lembaga turisme Australia Barat.
Jujur, selama berkarir di media, inilah liputan ter-hectic
yang pernah saya lakukan. Persiapannya grasa-grusu, kliennya juga agak abstrak.
Karena angle tulisan dan pagination-nya masih kasar, sebelum berangkat saya dipesenin
bos untuk buka mata lebar-lebar dan supaya jangan sampe kehilangan momen. “Kalo
ada yang seru atau ada yang unik-unik, ambil aja,” begitu kira-kira pesannya.
Sama Poetry si fotografer, si bos juga pesen, “Fotoin semua ya, Poet.” Ahaha, SEMUA??
But being the coolest boss that she is, Mba Bhen juga gak lupa ingetin saya dan Poetry untuk have fun and enjoy the trip. And have fun I did. Meski itinerary-nya super padet dan asli capek, I love every single moment of it. Perth has made me fall head over heels with Australia.
But being the coolest boss that she is, Mba Bhen juga gak lupa ingetin saya dan Poetry untuk have fun and enjoy the trip. And have fun I did. Meski itinerary-nya super padet dan asli capek, I love every single moment of it. Perth has made me fall head over heels with Australia.
Karena ini judulnya liputan wisata, kuliner, dan senang-senang, kita serombongan (9 orang) dibawa ke spot-spot seru di Perth, terutama ke bagian barat daya kayak Busselton, Yallingup, Dunsborough, Margaret River, Swan Valley, Fremantle. Beda hari, beda adventure. Ke pantai, ke gua, ke laut lepas, ke kebun anggur, ke pelabuhan, ke restoran di pinggir danau, naik ferry membelah sungai, ke taman botani, ke pabrik nougat, ke kebun binatang, naik jetty, lalu... makan, makan, dan makan.
Dalam sehari kita ke 4 sampai 5 tempat yang berbeda dan gak pernah tidur di hotel yang sama. Tiap hari saya bangun jam 5 pagi dan baru tidur lagi sekitar jam 2 pagi. Kalo teman-teman serombongan pada bisa curi-curi waktu tidur dengan molor di bis, saya mana bisa? Dari dulu saya emang susah tidur di dalam kendaraan, apalagi ini di tempat asing dengan landscape yang beda. Mata saya maunya ngeliat ke luar jendela terus, hehe...
Siklus kayak gitu setiap hari, udah pasti saya sleep deprived. Tapi asli kemaren itu saya gak ngerasain. Mungkin karena saya sangat enjoy sama ritme life-on-the-road yang berlangsung selama trip ini. Long drive on an open road, naik-turun di spot yang berbeda, pee breaks in I don’t know where, check in nyaris tengah malam di hotel yang asing, tiap malam telepon ke front desk untuk pesen morning alarm, different beds every night, etc... I mean I kinda feel like a rockstar on tour ^_^.
I also love the fact that throughout this whole trip I had to park my luggage close to my bed (instead of keeping it nice and tidy inside the room’s closet like I’d normally do). Kopor selalu harus saya taro di deket tempat tidur (dalam keadaan terbuka) biar ringkes kalo ngambil apa-apa dan bisa langsung cus kalo waktunya pergi. Ritme yang cepat, always on the go, always keeping up. I loved it.
I also love the fact that throughout this whole trip I had to park my luggage close to my bed (instead of keeping it nice and tidy inside the room’s closet like I’d normally do). Kopor selalu harus saya taro di deket tempat tidur (dalam keadaan terbuka) biar ringkes kalo ngambil apa-apa dan bisa langsung cus kalo waktunya pergi. Ritme yang cepat, always on the go, always keeping up. I loved it.
Ten or fifteen years from now I probably won’t remember the exact names of the places. But I know I will always remember the feelings I felt when I soaked all the pretty landscapes. Blue skies, yellow grass, white sands, grey open roads, sparkly crystal clear waters. Oh, and that sticky, sticky hot summer weather. So hot it hurts my skin. Perth, you robbed me.
*Pics by me & Poetry, first pic by Jennifer


























